Sekolah Cerdas Muthahhari


Sekolah, semua tahu seperti apa itu sekolah. Sekalipun dengan definisinya sendiri.
Cerdas, semua tahu maksud dari kata cerdas itu. Sekalipun dengan persepsinya sendiri.
Namun Muthahhari,
Barangkali belum semua tahu,
Baik artinya ataupun yayasannya.
Di tempat inilah sekarang saya bekerja,
menjadi pengajar bagi murid-murid sekolah dasar.
Ini bukan sekolah islam terpadu,
hanya berbasis Informasi dan Teknologi.
Sekolah dengan sistem funschooling,
yang berupaya agar anak belajar dengan perasaan bahagia.
Bisa jadi visi itu masih jauh,
tapi bukan berarti kami berjalan tanpa misi.
Setahun sudah saya berada disini,
banyak hal yang perlu saya sendiri perbaiki,
demi melihat senyum anak-anak setiap hari.
Namun sekali lagi,
ini bukan sekolah penanaman doktrin,
doktrin aliran-aliran sesat seperti komentar sebagian orang.
SYIAH?
Siapakah kita mengatakan kaum lain,
yang bertuhankan Allah SWT,
bernabikan Rasul SAW,
berusaha mengamalkan  rukun iman dan rukun islam,
sebagai orang sesat?
Sekalipun jika benar kaum tersebut Sesat (menurut manusia),
siapakah kita berani menyatakan sekolahnya sesat?
siapakah kita berani menyatakan gajinya haram?
Sudahkah anda cek kaum muslim yang bekerja dengan seorang CEO non-muslim?
Mengapa tidak sekalian katakan mereka semua sesat, jelas tuhannya berbeda?
Karena banyak orang tua batal menyekolahkan anaknya disini,
bahkan sebelum melihat sekolahnya,
sebelum mengetahui programnya,
sebelum bertemu murid-muridnya,
hanya karena informasi dari informan asal.
Sekolah ini terakreditasi A,
juga diawasi kementerian pendidikan,
jika memang ada yang salah,
tidak mungkin sekolah ini tetap dapat izin.
Baiklah,
setelah membaca ini,
pasti jadi ingin tahu apakah saya termasuk syiah atau bukan?
Saya besar di keluarga aktivis Muhammadiyah,
dengan Ibu seorang SSG DT,
dengan adik ibu sebagai aktivis perempuan SI,
dan adik ayah sebagai kader PKS.
Sekalipun lingkungan berubah cara shalat saya masih sama.
Toh memang tidak ada yang berbeda dari lingkungan ini.
Saya belajar bahwa di atas perbedaan pemikiran,
ukhuwah tetap yang utama.
Boleh jadi kita berbeda pendapat dengan siapapun,
tapi memang bukan hak kita untuk membencinya.
Sekolah ini terlalu menyenangkan untuk dianggap menyeramkan!
Tidak selalu,
kita dapat menjadikan suatu pribadi sebagai tolak ukur sebuah organisasi!
Tulisan ini baru prolog..
DSCF3734
6 mopdIMG_20150206_134342

IMG_02221 MOPD

"Why Do We Want To Be Parents?"



Bulan Oktober lalu SCM dan SMP Bahtera mengadakan “Parents Forum bersama Gobind Vashdev tentang Compassionate Parenting”. Gobind Vashdev merupakan sosok inspiratif, author dari Buku Happiness Inside dan finalis Penghuni Terakhir. Kegiatan tersebut dibuka oleh sambutan dari Ust. Miftah (Ketua Yayasan Muthahhari) yang diselingi candaan untuk Bapak Gobind dengan pertanyaan jebakan tentang siapakah Kepala Sekolah SCM/SMP Bahtera dan jawabannya salah. Hal tersebut mampu menghidupkan suasana di Aula SCM menjadi lebih hangat yang dilanjutkan dengan sharing ilmu dari Bapak Gobind Vashdev.

Pertanyaan sederhana dilontarkan oleh beliau kepada seluruh peserta kegiatan parenting tersebut. Pertama, beliau menanyakan sosok anak seperti apa yang diinginkan oleh para orang tua dan kedua, “Why We want to be parents?”. Menurutnya, menjadi orang tua sama dengan  mengambil peran yang paling penting dan dapat menyembuhkan luka-luka masa lalu. Luka tersebut berasal dari trauma orang tua di masa lalu ketika masih anak-anak untuk menghindari trauma terulang, orang tua menjadi fasilitas pelindung yang memberikan utuhnya dan menghilangkan prosesnya. Orang tua yang terbiasa menjadi fasilitas pelindung selalu mencari yang disalahkan.

Beliau pun menuturkan bahwa anak akan tumbuh untuk mencari penghargaan dari luar jika dibiasakan menerima sikap yang berbeda dari orang dewasa berdasarkan ‘label’ anak baik vs anak nakal. Sebaiknya orang tua menjadi fasilitas pembelajar yang fokus pada tujuan dari proses yang dialami anak. Karena anak hanya tahu enak atau tidak enak sedangkan orang dewasa memahami hal yang perlu atau tidak perlu.

Anak yang bermain dengan sendok dan menjatuhkannya ke kolam tidak perlu dimarahi dan dicermahi panjang lebar karena harga sebuah sendok yang jatuh ke kolam tersebut tidak sebanding dengan hati anak yang terluka. Cukup memberinya pemahaman akan sikap yang seharusnya dilakukan dan tidak baik untuk dilakukan serta ambil sendok yang jatuh. Ketika anak jatuh dan menangis, pada umumnya orang tua terlalu fokus untuk menghentikan tangis sang anak bukan mengobati lukanya. Sehingga salah satu fenomena yang terjadi di masyarakat sekarang adalah menjamurnya bisnis ‘mengalihkan perhatian’ seperti tayangan televisi dan media sosial. Hal tersebut dapat membuat anak mulai tidak fokus dan mengalami ADHD karena memang dari kecil dibiasakan untuk teralih perhatiannya.

Mendisiplinkan anak bukan berarti menjadikan anak seperti robot. Anak itu dikendalikan oleh emosi bukan perilaku. Kecerdasan emosi adalah ketika ia mampu mengekspresikan emosinya. Jika tidak, itu berbahaya bagi kesehatan psikis dan fisiknya. Menurut beliau mendisiplinkan anak tidak penting tapi menyembuhkan luka-luka dari masa lalu kita yang lebih penting. Anak yang dididik dengan Compassionate Parenting diharapkan dapat menjadi anak yang welas asih, peduli lingkungan, sadar dalam kehidupan, bahagia dan fokus pada yang bisa dilepaskan atau terus bersyukur.

Oleh karena itu pentingnya peran orang tua mengikhlaskan masa lalu dan membiarkan anak menjadi sebaik-baik diri sebagai seorang pribadi. Orang dewasa merupakan fasilitas pembelajar bagi anak untuk memahami diri sendiri dan lingkungan. Pendidikan pun dilakukan oleh orang tua dan guru melalui kerjasama yang terorganisir dengan baik.

Di akhir kegiatan, orang tua dan guru yang bertanya mendapatkan hadiah berupa buku Happiness Inside (Gobind Vashdev), The Prophet Wisdom (Miftah F. Rakhmat) dan Kidung Angklung di Tanah Persia (Miftah F. Rakhmat). Bagi orang tua dan guru yang ingin menjalin silaturahim dengan Bapak Gobind Vashdev dapat melalui website www.gobindvashdev.com dan twitter beliau @gobindvashdev.




Copyright 2009 Cerdas Cerah Ceria!. All rights reserved.
Bread Machine Reviews | watch free movies online by Blogger Templates